Sembilan Tarian Bali Masuk Predikat Warisan Budaya Dunia

958
Tari bali (fotot: tribunnews)

Baliluwih.com, Perjuangan 9 (sembilan) tari tradisional untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda (WBD TB), akhirnya gol melalui siding ke-10 UNESCO di Windoek, Nambia, Afrika Selatan, Rabu (2/12). Setelah predikat WBD direngkuh, 9 tari tradisi Bali ini langsung diusulkan bisa masuk kurikulum sekolah dasar hingga perguruan nggi.

tari-bali

 tari tradisi Bali via bisniswisata.co.id

SEMBILAN tari tradisi Bali yang diperjuangkan dapat predikat ‘WBD Tak Benda’ tersebut terbagi dalam ga klasifikasi. Pertama, klasifikasi Tari Wali (tari sakral) masing-masing Tari Rejang, Tari Baris Upacara, dan Tari Sanghyang Dedari. Kedua, klasifikasi Tari Wewalian (biasa digunakan untuk mengiringi upacara keagamaan, Hindu), melipu Tari Wayang Wong, Drama Tari Gambuh, dan Tari Topeng Sidakarya. Kega, klasifikasi Balih-balihan (bersifat hiburan), melipu Tari Legong Keraton, Tari Barong Ket, dan Tari Joged.

Tari Rejang

Rejang adalah tari sakral untuk upacara keagamann yang digelar di Pura/Merajan. Tarian ini bersifat fleksibel, menyesuaikan situasi dan kondisi, khususnya dalam upacara Pengideran Buana, para penari mengitari sajen, berputar-putar mengiku pradaksina.

Tari Sanghyang Dedari

Tari sakral ini ditarikan dalam kondisi kesurupan, memiliki tujuan miss, seper melindungi desa dari wabah penyakit dan bencana alam. Ini merupakan tari warisan kebudayaan pra-Hindu yang ditarikan oleh dua gadis yang masih suci (perawan). Tarian ini dak diiringi instrument musik, melainkan iringan beberapa orang menyanyikan tembang persembahan kepada dewa.

Tari Baris Upacara

Tari sakral ini dak memiliki lakon(lelampan) atau cerita. Tari baris upacara ditarikan sebagai penunjang upacara Dewa Yadnya. Tari baris upacara ini merupakan simbol widyadara, sebagai pangawal Ida Batara Sesuhunan turun ke dunia saat piodalan (odalan) di pura. Tarian ini berfungsi pula sebagai pamendak (penyambut) kedatangan para dewa.

Tari Topeng Sidakarya

Tarian pengiring upacara ini biasanya ditarikan di akhir upacara, menyimbolkan bahwa tari sakral telah selesai. Ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan runtutan upacara keagaman (Hindu) sebagai pelengkap guna mendapatkan keyakinan dalam pemcapaian ke arah kesempurnaan suksesnya sebuah upacara yadnya.

Tari Gambuh

Tari pengiring upacara ini merupakan tari lakon klasik tertua dalam khazanah tari Bali. Gambuh merupakan bentuk total teater yang memiliki unsur seni, drama, music, dialog, dan tembang. Gambuh inilah tari dasar hampir seluruh tari-tarian yang ada di Bali. Gambuh sangat erat hubungannya dengan pelaksanaan upacara-upacara besar terutama ngkat upacara “mapeselang”.

Tari Wayang Wong

Wayang Wong adalah seni pertunjukan yang pelaku-pelakunya adalah manusia (wong, orang), bukan kulit, seper wayang kulit. Tarian untuk pengiring upacara ini adalah salah satu cabang tarian klasik dan merupakan satu kesatuan tari, tabuh, tembang, dan drama dengan Tari Sanghyang Dedari menggunakan tapel (topeng), dan memakai yang diambil dari lakon (wiracarita) epic Ramayana.

Tari Legong Keraton

Tari klasik yang melakonkan cerita-cerita zaman dulu ini biasanya ditarikan oleh ga gadis dimana satu orang berperan sebagai condong, sementara lainnya berperan sebagai legong. Legong keraton masuk kategori tari balih-balihan (hiburan).

Tari Joged Bumbung

Joged adalah semacam tari pergaulan, yang diiringi gamelan dengan alat music dari bambu yang disebut gerantang. Penari joged bumbung perempuan dengan pengibing lakilaki. Penari joged awalnya menari sendiri yang disebut ngelambar, sebelum menghampiri penonton laki-laki (nyawat) untuk diajak menari bersama.

Tari Barong Ket

Barong merupakan perwujudan atau prabhawa Shangyang Tri Mur. Warna topeng atau punggelan berbagai jenis Barong yang berwarna bang (merah) adalah simbul Dewa Brahma, berwarna ireng (hitam) simbul Dewa Wisnu, dan yang warna petak (puh) merupakan perwujudan Dewa Iswara. Perwajahan barong umumnya wajah manusia dengan berbagai warna berbeda sebagai simbul tertentu, dan khusus Barong Ket, lebih menyerupai hewan. (Bali Travel Newspaper)